Sequen: Bekerja Seperti Bikin Film

photo 015a Sequen: Bekerja Seperti Bikin FilmSaya merasakan betul kaitan komik dan film adalah saat mengerjakan pekerjaan sebagai storyboard artist. Sebelumnya, meskipun dulu saat kuliah, lulus mata kuliah pilihan Komik dengan nilai “A” saya belum mengerti benar bagaimana menarik persamaan kedua medium ini. Kini, saya merasa jika sejak dini korelasi antara _ lm dan komik ini diperkenalkan pada sebuah forum belajar membuat komik, termasuk buku-buku dalam buku panduan, maka saya yakin komik lokal akan benar-benar meningkat kualitasnya.

Komik nyatanya tidak hanya berbicara masalah sekuensial, namun sudut pandang, persepsi, sikap (statement) dari komikus harus nyata terbaca. Karena begitu pulalah fi lm “dibaca”. Barangkali kita perlu kesampingkan dulu bagaimana prestasi “emas” komik saat menjadi hulu cerita yang dikembangkan oleh fi lm dalam bentuk adaptasi dan begitu pula sebaliknya, pada zamannya dulu dan sekarang. Saya lebih kepingin menyampaikan di sini mengenai pola pikir dalam berkreasi. Kita harus belajar pada komikus-komikus Jepang, yang telah lebih dulu berekspresi dengan pandangan sinematografi s dalam membuat panel–yang bukan berarti hanya membuat panel lebar (widescreen), tapi angle, eff ect yang dibuat sedemikian sehingga membawa pembaca pada kesan melihat viewfinder kamera. Juga konsep line camera, yakni logika arah pandang yang menentukan situasi tokoh dalam setting.

Di luar itu, sekadar berbagi pengalaman, menurut saya komikus-komikus dalam tim (studio) perlu mengikuti pola kerja sebuah produksi fi lm, yang terbiasa mendiskusikan script secara bertahap dari draft ke draft hingga dianggap selesai dan locked. Script begitu penting bagi komik yang pada dasarnya adalah cerita dan penceritaan. Jadi, kalau mau menerapkan sistem ban berjalan dalam studio komik, mulailah secara kolektif membahas script nya, saya yakin jika ini berjalan dengan baik, maka minimnya komik Indonesia dengan cerita dan tuturan yang baik dapat diubah. Beberapa komikus kita, kerap mengabaikan cerita dan peceritaan dan asyik pada visual, pin up karakter, action (pose-pose) atau humor-humor sesaat.

Produksi fi lm pun mementingkan kehadiran editor, yang di Indonesia ini sayangnya kehadiran editor justru dalam beberapa penerbitan kerap diabaikan. Komikus (baik individu maupun studio) datang dengan sebuah gagasan yang dikunci,sehingga menutup ruang untuk dibukanya diskusi menyeluruh. Dalam produksi fi lm, editor berperan setelah shooting dilakukan, namun dalam komik editor hadir sejak script selesai hingga pembuatan komik tetap terlibat. Sering kali saya mendengar keluhan komikus-komikus yang menghadapi editor seolah hendak “berperang” yang taruhannya menang atau kalah, diteruskan atau tidak. Padahal editor dan komikus hendaknya berangkat dari pemikiran bersama-sama untuk membuat komik yang bagus, saya pastikan bahwa saat dalam pekerjaannya akan terdapat friksi atau silang pendapat, apalagi yang diperdebatkan adalah masalah kreatif yang penuh tafi sran-tafsiran. Perlu dipahami bersama adalah saat berpendapat itu adalah saat yang tepat untuk menghidupkan tradisi intelektual, alasan, adu argumentasi yang pada akhirnya membangun fondasi karya yang kuat.

Saya concern dengan perihal sistem kerja ini,dalam beberapa produksi saya menerapkan system itu. Sebab saya masih temukan komikus-komikus dengan attitude“merasa hebat terbit tanpa editor”. Begitupun dengan penerbit-penerbit yang masih mengabaikan proses editorial dalam komik. Fungsi editor bukan hanya menyangkut pemilihan kata dan ejaan serta struktur bahasa semata. Namun dimulai dari script cerita. Komik masih saja dianggap remeh, padahal pengerjaan sulit, memakan waktu yang lama dan biaya yang tidak kecil pula. Terlebih jika kita punya harapan bahwa komik komik yang lahir ini akan dibaca oleh generasi mendatang beberapa puluh tahun kemudian.

Beng Rahadian

This entry was posted in ComicalMagz-072012. Bookmark the permalink.

Leave a Reply