Sequen: Tentang Rumah

photo 014b Sequen: Tentang RumahSaya kerap mensyukuri saat bekerja sebagai freelancer, meskipun ada kalanya sesekali merindukan suasana “ngantor 9-5”. Yang paling saya nikmati sebagai freelancer yang berstudio di rumah adalah saat pagi hari membuka pintu, jendela, menyiapkan kopi dan bersiap kerja di sudut rumah menghadap meja gambar dan komputer .

Ini sekadar sudut pandang, bahwa pagi hari, jalanan Jakarta adalah “neraka” kecil bagi saya. Berada di tengah arus berjejalan dengan orang-orang yang kepingin cepat-cepat sampai di tujuan. Rumah saya di selatan Jakarta adalah pintu masuk arus datang dari Selatan dan Timur menuju Kuningan, melangkah keluar halaman saja sudah terhadang macet, tidak ada kompromi bagi jenis transportasi apapun untuk menjadi lancar, baik pagi, siang bahkan malam. Kalau panas basah kuyup keringat, kalau hujan basah kuyup sampai infl uenza. Bagi saya, jalanan adalah kompetisi yang rawan konfl ik dan saya adalah orang yang cenderung menghindari konflik. Saya terlalu lemah untuk berada di tengah arus kompetisi manusia-manusia Jakarta yang memperjuangkan kesempatannya di jalan raya.

Naluri survival saya berada di rumah, kompetisi saya ada di jalur telekomunikasi dan internet. Perjuangan kesempatan saya adalah mempertahankan jalur SMS, telfon dan e-mail sebagai lalu lintas utama pekerjaan saya, rumah sekaligus menjadi tempat bekerja.

Sesekali memang harus ada per temuan pekerjaan di luar rumah, namun tidak sering. Barangkali ini hanyalah pilihan yang disediakan

peradaban. Banyak cara untuk menjadi manusia berkualitas. Rumah, jalan raya, kantor, sekolah, internet adalah cara yang terpilih sesuai dengan karakter masing-masing.

Bagaimana dan dimana pun Anda bekerja, tetaplah semuanya berawal dan kembali ke rumah. Rumah, yang bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi selayaknya tempat yang harus kita jadikan menjadi tempat paling nyaman di dunia. Dimana kita bisa mempersiapkan segalanya untuk kehidupan yang lebih baik. Berbahagialah Anda yang sudah menemukan tempat ternyamannya adalah rumah. Yang bukan karena besar, megah dan mewahnya, namun pada kita sebagai penghuni. Banyak sekali contoh kita lihat, rumah sempit dan sederhana namun kerap dikunjungi orang karena penghuninya. Hal ini, menjadikan pertanyaan baru, di mana sesungguhnya rumah itu berada, jika rumah sempit pun kalah oleh pesona penghuninya. Ini adalah titik balik yang ingin pula saya sampaikan di sini.

Tentang rumah yang berada dalam hati setiap manusia. Kenyamanan sebuah rumah intinya adalah kenyamanan kita dengan diri kita masing- masing. Di dalam hati kitalah sesungguhnya rumah itu berada, di hati kitalah tempat bersemayam segala kebaikan, hasrat yang menjadikan kita membangun konsep tempat tinggal. Jika nyaman hati kita, maka nyamanlah rumah kita. Bagi Sang Petualang seperti Si Buta Dari Gua Hantu, alam raya inilah rumahnya. Bagi sebagian orang yang khilaf, kini penjaralah rumahnya. Namun sekali lagi, berdinding apapun rumah menjadi nyaman karena kita yang membuatnya.

Beng Rahadian

This entry was posted in ComicalMagz-052012. Bookmark the permalink.

Leave a Reply