KARYA MENDUNIA DARI SEBUAH DESA

photo 013 KARYA MENDUNIA DARI SEBUAH DESAMeski tinggal di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk di Tulungagung, Jawa Timur, karya-karya Ardian Syaf (32) sudah mendunia. Judul-judul seperti The Dresden Files, Superman/Batman, Green Lantern Corps, Birds of Prey, dan Batgirl pernah digarapnya. Bahkan, The Dresden Files yang menjadi debutnya pernah hits di Amerika dan menduduki peringkat ke-4 sebagai komik terlaris versi Wizard Magazine.

TUMBUH dalam keluarga berlatar belakang PNS, impian Aan (sapaanya) menjadi komikus tak mendapat restu dari kedua orangtuanya. Aan disarankan agar hobi menggambarnya dijadikan sampingan saja, bukan sebagai pekerjaan utama. “Sejak kecil komik adalah mimpi saya. Sejak SD saya ingin sekali seperti Wid NS yang bisa hidup dari menggambar”, akunya. Bukan sekadar mimpi, Aan pun sudah membuktikannya dan keluarganya merasa senang.

Hasil kerja keras Aan tidak diperolah denganmudah. Selepas dari Universitas Negeri Malang jurusan Desain Komunikasi Visual tahun 2004, Aan tidak punya pekerjaan tetap hingga tahun 2007. Saat itu pekerjaanya sebagai layouter lepas yang mengerjakan buku-buku LKS untuk sebuah penerbit dalam kampus. Awal 2005 beberapa kali Aan malamar pekerjaan sebagai komikus melalui internet untuk majalah anak-anak dan ditolak. Hal ini sempat membuatnya putus asa, bagaimana caranya bias hidup dengan menggambar komik? Hingga akhirnya atas informasi seorang teman, ia melamar pekerjaan kesana-kemari ke penerbit di luar negeri lewat internet dan mendapat kontrak pertamanya dengan Dabelbrother Publishing.

Debutnya yang menjadi hits di Amerika, selain mendapat respon positif dari pembaca juga mendapat respon positif dari orang-orang yang pernah bekerjasama dengannya. Hampir semua penulis maupun inker menyatakan rasa senangnya karena telah bekerja sama dengan Aan, termasuk Mark Power, penulis naskah The Dresden Files yang pernah bilang “Soon you will hear from Marvel!” Awalnya Aan menganggap hal itu tak mungkin karena Marvel adalah penerbit besar. Namun dua tahun kemudian Aan benarbenar menggambar untuk Marvel walau hanya sebagai fi ll in artist. Karirnya pun berlanjut. Setelah menggarap pensil untul 4 edisi komik di Marvel, Aan dikontrak eksklusif oleh DC Comics selama

dua tahun sejak 2009 dan kontrak ini diperpanjang hingga 2013.

Mengenai pengalamannya bekerja untuk penerbit luar, Aan mengaku mendapatkan tantangan untuk bekerja cepat karena komik yang dikerjakannya terbit bulanan. Tak pelak, bekerja mulai pukul 4 pagi hingga malam pun dilakoninya. Kemudian siang hari ia rehat sejenaksambil mengurusi anaknya ke sekolah dan yang masih balita sementara istrinya mengajar. Selanjutnya ia meneruskan pekerjaan hingga malam hari. Tantangannya bukan hanya itu, sebagai artis yang bekerja di rumah, ada banyak hal yang kerap mengalihkan perhatiannya ketika bekerja hingga ia terpaksa merangkap target kerja di hari berikutnya demi mengejar ketertinggalan. Dan layaknya pekerja kreatif lainnya, ia juga memiliki “golden

time” yang biasanya didapat ketika terbangun tengah malam, dimana tak ada ‘gangguan’ sehingga ia bisa menggambar dengan cepat.

Meski karirnya di penerbitan komik Amerika sudah mantap, Aan tetap merindukan untuk membuat komik Indonesia, karena belum sekalipun ia membuat komik untuk penerbit di Indonesia. Pengagum Wid NS ini pun menyatakan keinginannya membuat komik Indonesia kalau saja sudah tidak terikat kontrak eksklusif. Lalu dengan siapa ia ingin berkolaborasi? Ungkapnya, “Seandainya bias tentu saja dengan Sang Legenda Ganes Th. Mas Gienardy Santosa (pemegang hak cipta Si Buta –red) pernah mengirimi saya komik berjudul Si Buta dari Gua Hantu: Manusia Srigala dari Gunung Tambora. Ceritanya sangat menarik dan enak diikuti.” Selain itu karakter komik Indonesia yang ingin sekali ia komikkan adalah Si Buta dan Caroq. “Karakter gambarnya saya suka dan menurutku gaya gambar saya cocok”, lanjutnya.

Kemudian bagaimana pandangannya mengenai industri komik Indonesia? Soal ini Aan mengaku tidak tahu banyak. Tapi yang pasti ia berharap bahwa ada beberapa hal yang bisa diambil hikmahnya dari industri komik Amerika, salah satunya kedisiplinan artis. Untuk industri, menurutnya penting menjaga kontinuitas penerbitan tiap bulan. Dan ia membayangkan seandainya saja ada dua judul favorit pembaca yang muncul tiap bulan dengan cerita dan gambar yang tak kalah dengan komik luar serta promosi yang bagus, tentu akan membangkitkan kembali momentum komik Indonesia.

Di sesi terakhir wawancara, Aan pun menyatakan harapannya akan komik Indonesia menuju arah yang lebih baik dan semakin banyak dijumpai di toko buku karena ia juga menyayangkan belum maksimalnya distribusi dan promosi komik Indonesia yang hanya ada di toko-toko besar di kota dan forum-forum komik atau pemesanan melalui internet. “Sebagai calon pembaca yang tinggal di daerah, semoga suatu saat saya bisa tinggal membelinya di Indomaret terdekat.” Selain itu, Aan juga berharap bahwa komik Indonesia bias “hidup” dan “menghidupi” artisnya.

This entry was posted in Comicalmagz-022012. Bookmark the permalink.

Leave a Reply