Closure #012 : Komik, Enak Dibaca dan (tak) Perlu Dibeli…

closure012 Closure #012 : Komik, Enak Dibaca dan (tak) Perlu Dibeli...Kerap saya melihat sekelompok anak-anak usia tanggung numpang baca buku di sebuah toko buku besar di daerah Matraman, Jakarta Timur, yang punya cabang banyak sekali di seantero Jakarta dan Indonesia. Dugaan saya, mereka anak-anak dari kampung sekitar. Pakaian mereka seringkali rada kumal mungkin sebab habis main bola kaki, bau tubuh mereka, hmmmm…, mari kita sebut saja sebagai bau matahari. Jenis buku yang mereka baca beragam. Tentunya komik juga dipilih mereka, termasuk manga (komik Jepang). Maka, ketika saya mulai tergila-gila pada manga, bau matahari anak-anak tersebut lalu menjadi terlalu akrab di hidung saya hahahahaha…

 

Akan tetapi, bukankah sebuah hal yang menggembirakan bahwa mereka, masa depan dari bangsa ini, mempunyai minat baca seperti itu. Tanpa bermaksud merendahkan, berdasarkan pengetahuan, di sekitar toko buku itu banyak perkampungan masyarakat kelas ekonomi bawah. Melihat penampilan luar anak-anak tersebut, saya berpendapat bahwa mereka berasal dari sana. Bukan rahasia lagi kalau buku itu mahal harganya, maka, baca-baca gratis semacam itu tentunya menjadi pilihan—saya dukung itu. Kalau diusir, nanti tinggal datang saja lagi. Atau, belagak pilon nggak denger saja.

Lalu, saya pun pindah domisili ke daerah Jakarta Selatan. Masih tetap menggilai manga bahkan mungkin lebih gila lagi, saya incar cabang lain dari toko buku yang di Matraman. Yang terdekat ada dua rupanya. Satu di sebuah mal di Bintaro, satunya lagi di Pondok Indah. Waktu saya masuk ke toko di tempat yang terakhir, ah, ternyata saya menemukan banyak yang sedang baca-baca gratis. Kenangan akan anak-anak di cabang Matraman teringat kembali, tapi tak terasa déjà vu, sebab bedanya jauh. Yang di sini tak cuma wangi-wangi, mereka juga punya ponsel trendy. Makannya di restoran-restoran di dalam mal, pakaiannya modist. Banyak di antaranya yang bergerombol, baca-baca sembari cekikikan. Aduh…, fenomena macam apa sih ini?

Masa itu, saya sering ke mal sekalian menemani anak perempuan seorang teman, usianya sekitar 11-12 tahun. Ketika pergi bersama, sementara saya membereskan urusan di sana dan si anak malas mengikuti saya, ia ke toko buku itu duluan. Karena saya tokh akan ke sana juga, dan lalu kami akan belanja komik bareng-bareng. Sering saya mendapati dia tengah membaca sebuah komik, yang lalu dimasukan ke dalam tas belanja saya. Namun, satu kali, yang ada komik itu dikembalikannya ke rak. Ketika ditanya, dia bilang tidak tertarik untuk memiliki komik yang merupakan sebuah komik serial. Akan tetapi, dia suka ceritanya jadi mau baca. Dan atas pengakuannya, ternyata selama ini ia mengikuti seri tersebut dengan cara baca gratis. Ya ampun… Saya minta supaya dia jangan ikut-ikutan jadi pembaca gratis, tapi tak jelas apa diturutinya atau tidak.

Ulah para pembaca gratis itu tidak cuma mengganggu kenyamanan saya berbelanja, tapi juga sangat menjengkelkan. Dengan seenaknya mereka berdiri atau bahkan duduk di depan rak, tanpa perduli orang lain juga ada keperluan di situ. Kalau diminta bergeser, “Permisiiii…,” kata saya, kebanyakan melirik dengan sebal. Kalau ada komik-komik yang berjatuhan, disebabkan oleh mereka atau pun bukan, sama sekali tak perduli. Kadang menengok, mungkin karena kaget, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Sebegitu susahnya kah ikut bantu memunguti?

Sama tak perdulinya mereka pada komik-komik yang selesai mereka baca. Digeletakan terserah saja sesukanya. Ada satu lagi dosa mereka yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Bahwa membuka plastik pembungkus komik tanpa ijin petugas toko saja sudah salah, lalu plastiknya pun dilempar sembarangan. Saya pernah menginjak plastik pembungkus tersebut sampai hampir terpeleset, dan itu terjadi tak hanya sekali. Dendam banget!!!

Saya sempat mengeluh tentang ulah para pembaca gratis ini ke kasir. Mereka bilang, bahwa pihak toko sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Larangan yang dilontarkan, baik dengan sopan maupun sedikit keras, tidak pernah digubris. Wah, sama donk ya dengan sikap anak-anak di Matraman itu. “Sudah kebal sepertinya,” kata salah seorang kasir. Lucunya, kata kasir yang lain, pihak toko kerap menerima pengaduan kehilangan ponsel dari para pembaca gratis. “Bisa beli handphone tapi kok nggak bisa beli komik ya,” sambungnya.

Keluhan kedua saya ke pihak toko rada melenceng dari pokok permasalahan tapi ada hubungannya. Kenapa komik-komik yang sudah keriting dan kumal tetap dijual dengan harga sama dengan yang masih apik? Jawabannya ha-
nya senyum manis. Komik jadi keriting dan kumal karena komik tersebut dibaca terus menerus. Biasanya terjadi pada komik-komik yang edisinya sudah tidak banyak lagi tersedia di toko. Sementara, buat yang edisinya masih banyak, sepertinya para pembaca gratis lebih suka buka yang baru. Maunya menggenggam buku anyar baru keluar dari plastiknya, yang padahal merupakan hak dari orang-orang yang membeli.

 Iseng saya pernah tanya ke beberapa orang dengan waktu dan tempat yang berbeda-beda, apa sih sebabnya suka baca gratis. Bukannya dibeli saja, lalu dibawa pulang buat dibaca di rumah. Ada yang menjawab cuwek sembari mengangkat bahu bilang “Nggak papa,”; ada yang cuman senyum-senyum—sebagian di antaranya tersenyum malu, merasa bersalah juga rupanya. Dan, tentu saja, sebagian besar menyelesaikan pertanyaan saya dengan melirik jengkel. Hehe…

Akibat ulah para pembaca gratis yang tidak perdulian, toko pun menjadi berantakan. Situasi sejenis paling parah yang pernah saya lihat adalah di cabang toko ini di mal Grand Indonesia baru-baru saja. Waktu itu, si toko tengah merayakan ulang tahun dan mereka memberi diskon tiga puluh persen untuk semua buku selama beberapa hari. Waktunya bertepatan dengan musim liburan sekolah sekaligus di akhir pekan, maka toko pun dibanjiri pengunjung sampai segitu sesaknya. Di antaranya termasuk, tentunya, para pembaca gratis. Suasana toko benar-benar hancur, terutama di hari terakhir diskon berlaku. Plastik-plastik pembungkus bertebaran di seantero tempat, demikian pula komik-komiknya. Membanjir ke lantai sampai-sampai gang di antara rak tidak bisa dilalui. Di sela-sela itu semua, arena sisanya kuat dikuasai oleh para pembaca gratis. Nggak punya sopan santun sama sekali.

Dengan dongkol saya pulang. Berencana kembali keesokan harinya untuk belanja komik pakai kartu VIP seperti biasa. Diskonnya hanya sepuluh persen, tapi berlaku seumur-umur dan sudah saya pakai sejak setengah dekade lalu.

Nina Masjhur

This entry was posted in ComicalMagz-122011. Bookmark the permalink.

Leave a Reply