BAYANG-BAYANG KOMIK WAYANG

photo 010 BAYANG BAYANG KOMIK WAYANGRA Kosasih, Ardisoma danTeguh Santosa, adalah nama-nama yang akan selalu dipuja sebagai maestro komik yang banyak mengangkat kisah wayang. Pada tahun 60-an saja, semua repertoar seri Wayang Purwa telah diterbitkan dalam bentuk komik oleh penerbit Melodi dalam format berseri. Ketika komik-komik wayang ini dicetak ulang, beberapa dalam versi lux, ternyata masih banyak diminati  dan beberapa judul bahkan ludes terjual.

Komik wayang nampaknya selalu membayangi gejolak perkomikan di Indonesia, sebagai salah satu alternatif kisah yang mencoba mengakar pada budaya nasional. Komik dengan kisah wayang mulai muncul tahun 1954 dan menemukan sendiri panggungnya hingga tahun 70-an, terus beredar hingga medio 80-an dengan segmen pembaca yang beragam. Keadaan ini sempat menginspirasi munculnya komik wayang dengan format berwarna, walaupun nampaknya tidak sampai tamat karena keburu digulung krisis komik waktu itu. Tahun 2000- an komik wayang muncul dengan versi mampat ala manga-terjemahan yang diolah dari naskah komik tahun 60-an. Komik wayang kembali muncul pasca 2005, ketika dunia perkomikan di Indonesia mulai dinamis kembali. Catatancatatan di atas hanya sepintas lalu, dan belum termasuk komik wayang dalam versi komik strip yang ada di media massa – media massa daerah terutama di Jawa.

Ketika diadakan lomba komik str ip dengan tema wayang untuk meramaikan kongres Sena Wangi, komunitas penggemar dan pelestari wayang, ada yang mengatakan beberapa naskah yang masuk nampak kedodoran dalam menceritakan kembali kisah pewayangan. Sejauh mana komik wayang berperan untuk ikut melestarikan dan memasyarakatkan kisah wayang? Komik-komik wayang karya para maestro seperti RA Kosasih atau Teguh Santosa, dengan referensi dari berbagai sumber, mencoba untuk setia pada pakem kisah pewayangan walaupun ada adaptasi dan interpretasi-interpretasi pribadi, sehingga tidak salah bila mendapat label dan kategori komik wayang. Di luar itu, dalam dunia industry komik terkini, banyak judul komik baru yang mengangkat kisah, atau mengambil tokoh dari dunia pewayangan. Bisakah komik-komik baru ini disebut sebagai komik wayang? Apakah dengan sekadar meminjam karakter Gatotkaca atau Punakawan, atau sekadar memakai kostum mirip-mirip pertunjukan wayang orang, sebuah komik bias disebut sebagai komik wayang? bagaimana jika narasinya sudah keluar dari pakem?

Pertanyaan-pertanyaan ini coba saya diskusikan secara simple dengan teman yang hobi, hidup dan menjadi peneliti wayang, dan juga dengan seorang dalang muda yang akhir-akhir ini sering muncul di tivi mengiring iklan prosesor komputer. Menurut mereka, istilah wayang sendiri sudah mengalami perubahan. Bahkan ketika ada per tunjukan wayang orang pada abad ke-18 di Kasultanan Ngayogyakarta, istilah wayang sudah berubah ar ti menjadi semacam sebutan untuk salah satu kesenian, suatu bentuk kebudayaan dengan kisah-kisah yang diambil dari kitab Pustakaraja Purwa yang kemudian menurun pada kitab Pustakaraja carangan (cabang) dengan kisah besar Ramayana, Mahabharata dan Bharatayuda. Nukilan-nukilan dari Pustakaraja inilah yang sering dimainkan dalam kesenian wayang purwa yang kemudian turun lagi dalam bentuk carangan atau saduran yang telah disesuaikan dengan kebudayaan lokal (Jawa – Bali). Ditilik dari pemahaman ini, ketika sebuah komik mengangkat saduran, bahkan dalam bentuk yang bebas sama sekali, ia boleh disebut komik wayang. Saduran, adaptasi, tafsir dan interpretasi gaya baru dalam pentas wayang dilihat oleh kedua teman saya tadi sebagai salah satu cara wayang untuk survive. Jika wayang hanya dilestarikan, dan dijaga keasliannya, justru akan menghentikan langkahnya. Tentu saja, di lain sisi, usaha para pelaku kesenian untuk menjaga keaslian wayang juga harus dihargai dan didukung.

Lalu di mana letak tanggung jawab si komikus ketika komiknya sudah bi sa di sebut komik wayang tanpa harus mengikuti kisah yang pakem? Ada baiknya untuk mempelajari dulu kisah yang asli, lengkap dengan pengembangannya, sehingga ketika ngomik, si komikus bias dengan gesit bernarasi secara visual dengan bekal pengetahuan setting, hapal karakterisasi si tokoh, dan paham makna filosofisnya, sehingga komik yang disampaikan menjadi lebih berbobot dengan gagasan yang pas. Boleh saja membuat komik dengan tokoh kera dan mengaku saduran dari kisah Ramayana, walaupun akan lebih afdol bila kera ini juga menunjukkan visualisasi dan karakterisasi yang sesuai dengan karakter asli yang dirujuk. Sejauh pengetahuan saya, wayang kulit dengan segala tatahan dan sunggingannya mempunyai makna tertentu yangfilosofis dan mendalam. Sosok Batara Ismaya yang sering dikenal sebagai Semar, manusia yang buruk rupa dan putra-putranya yang di dalam karya komik sering diidentikkan dengan badut yang hanya membanyol, tanpa pernah mengamati ikonografis wajah dan tubuh beserta pakaian mereka, yang dalam bentuk wayang aslinya adalah sebagai penanda maksud tertentu. Pertempuran dalam kisah wayang adalah sesuatu yang coba untuk dihindari dengan sekuat tenaga, dengan pihak Pandawa atau Kurawa yang tidak hitam-putih, tidak benar dan juga tidak salah 100%. Namun dalam komik, seringkali tokoh Pandawa digambarkan sangat jujur, bersih, hero banget, sedang pihak Kurawa sebagai pihak villain yang sudah pasti jahat, biang onar, licik, dan bila keduanya bertemu pasti terjadi duel yang heboh. Konstruksi wacana bahwa komik sebagai media hiburan selingan bisa jadi sebagai alasan utama untuk melihat kenapa wayang ketika diadaptasi dalam komik lebih mengandalkan unsur action, humor, atraksi, dan secara umum: hiburan. Buku tentang wayang ‘Leather Gods and Wooden Heroes’ (David Irvine), telah memberi pandangan bahwa kemajuan wayang pada masa kini akan lebih bersandar pada unsur hiburannya dan akan jauh dari relasinya dengan unsur etika dan filosofi, seperti pada awal ketika wayang dipakai untuk ritual dan kelengkapan upacara tradisional. Dari sakral menjadi profan.

Belum, atau bahkan tidak perlu mencari ramuan untuk format komik wayang seperti apa yang paling tepat. Biarlah itu terus berproses secara alami dan ikut berpartisipasi aktif dalam dinamisme komik Indonesia, dengan tetap mempertimbangkan bahwa studi dan observasi untuk bahan acuan dalam berkomik adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan. Teringat pendapat Claire Holt dalam bukunya ‘Art in Indonesia; Continuities and Change’ yang telah menengarai bahwa pertunjukan wayang akan selalu menjadi media penutur cerita yang hebat, yang akan menemukan repertoar, teknik, serta gaya yang berbeda dari miliknya sendiri dengan inti ceritanya berasal dari kebudayaan rakyat, yang dari manapun asalnya, wayang (kulit) Indonesia adalah unik termasuk cerita, gaya boneka, dan cara penyajian oleh juru cerita yaitu dalang. Tentu saja Holt tidak menyebut komik dalam bahasannya, tetapi bisa saja kita coba sisipkan pemahaman komik dan mengganti ‘dalang’ menjadi ‘komikus’ dalam uraian tadi, sehingga komikus yang berkarya dengan kisah wayang lebih merasa bertanggung jawab, termasuk membuktikan pendapat Marcel Bonnef bahwa komik wayang adalah media yang mampu mendidik dan mendekatkan pembaca kepada wayang. Bukan malahan menjauhkannya.

Oleh: Terra Bajraghosa: robotgoblok@yahoo.com

This entry was posted in Comicalmagz-112011. Bookmark the permalink.

Leave a Reply