ART | JOG | 11 : SEBUAH CATATAN

Saya yakin setiap orang yang tinggal di Jakarta, atau paling tidak kota besar, pernah mengadakan perjalanan “sambil lewat”. Maksudnya adalah dari titik A menuju titik E, mampir dulu di titik B, C, atau D, atau justru semuanya sekaligus untuk mengerjakan sesuatu. Misal dalam perjalanan dari rumah ke kampus, mampir ke ATM lalu ke minimarket dan terakhir beli kopi di drivethru kedai kopi franchise. Pola hidup di kota besar yang demikian bisa jadi terdorong oleh sedikitnya waktu yang tersedia, didikte oleh macet dan jarak.

Malam pembukaan ART|JOG|11, yang memasuki tahun keempatnya, Sabtu, 16 Juli, adalah pemberhentian kesekian kali saya – sebagai seorang komikus – di galeri. Berpameran, dalam kamus saya adalah kegiatan menyenangkan untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas ‘jualan’, untuk bermain-main dengan ide, media, dan kemasan. Tantangan seorang sahabat agar saya mengikuti ART|JOG yang berbentuk art fair sebelum saya melanjutkan studi S2 ke USA pun saya jawab.

ART|JOG berawal dari Festival Kesenian Yogyakarta (2008) yang berdiri dengan nama Jogja Art Fair (2009). Dalam perjalanannya JAF berubah menjadi ART|JOG (2010), lengkap dengan adanya tema dan dikurasi seperti pameran seni rupa pada umumnya. Hanya saja, ART|JOG|11 tidak mengangkat tema tertentu. Seperti “janjinya”, ART|JOG (masih) berfungsi sebagai wadah art fair bagi seniman muda dengan tujuan mempromosikan pencapaian mereka kepada pasar seni rupa lokal dan internasional.

Ketika men-display pada Jumat malam sebelum pembukaan, semua orang bercampur baur. Hampir tidak bisa dibedakan mana project manager, kurator, seniman, teknisi, tukang dan panitia. Semua hilir mudik dengan wajah kusut kurang tidur. Karya dan instalasi yang memerlukan pemakaian alat berat didahulukan pemasangannya, sehingga karya saya yang berupa kertas-kertas mungil berukuran 12.5 x 12.5 cm sejumlah 37 lembar terbengkalai, walau ternyata diperlukan waktu 4 jam untuk memasang kertas-kertas itu ke dinding.

ART|JOG menyelenggarakan art fair dengan sistem open call; dari 1.770 seniman yang mengirimkan aplikasi untuk 3.500 karya, terseleksi 241 karya dari 165 seniman. Di event ini juga ada special presentation yang memamerkan karya seniman mapan yang belum pernah dipamerkan di Indonesia; project presentation, bagian yang memamerkan sejumlah proyek seni yang sedang berlangsung; dan commision artist, dimana senimannya diberi kesempatan untuk membuat karya site specific yang mengubah penampilan Taman Budaya Yogyakarta.

rie artjog 2 ART  |  JOG  |  11 : SEBUAH CATATANDi antara 80-an karya yang terpilih untuk di-display, ditilik dari media dan alat yang dipakai, banyak karya yang sebetulnya cukup dekat dengan apa yang saya – sebagai komikus –kerjakan: cat air, gouache, pensil, di atas kertas. Tetapi, yang mencolok dan selalu menarik mata saya tentu karakter-karakter yang menyerupai karakter komik, berwarna cerah, dilukis menggunakan akrilik, di atas (atau dicetak di) kanvas yang banyak saya temukan belakangan ini ketika mengunjungi beberapa pameran di Jakarta.

Saat berkeliling melihat display demi display, ternyata saya menemukan juga karya digital drawing yang dicetak langsung di atas akrilik: We Love Baths! (Anneke Fitrianti). Karyanya terdiri dari 4 panel berlatar belakang merah tua dengan gambar bak mandi bertuliskan “we B0C ART  |  JOG  |  11 : SEBUAH CATATAN baths” + shower di setiap akrilik 40 x 40 cm-nya. Panel tersebut disusun dalam dua kolom dan baris. Ada keluarga kecil, entah pasangan suami istri atau kumpul kebo bersama anak mereka, yang bergantian mandi (dengan mengenakan pakaian renang) di tiga panel pertama, lalu di panel terakhir hanya ada bak mandi penuh busa dan tidak ada karakter lain.

Awalnya karya tersebut terlihat menarik dengan warna merahnya yang memaksa mata memperhatikan. Dari sekian banyak karya masif yang menguasai ruang, baik instalasi, patung, maupun lukisan di atas kanvas raksasa, karya ini secara natural tentu terasa dekat dengan saya yang biasa berkutat dengan bahasa tutur menggunakan gambar. Tapi setelah diperhatikan, keempat panel tersebut sebenarnya tidak menceritakan satu cerita utuh yang berkaitan.

Saya juga menemukan karya Eko Nugroho yang berkolaborasi dengan Left & Right Group berupa mural dan instalasi, serta karya Terra Bajraghosa. Terra Bajraghosa adalah salah satu dari beberapa komikus seperti Bambang Toko dan Eko Nugroho yang bermain ke dunia seni rupa. Tetapi, tidak seperti Bambang Toko atau Eko Nugroho yang (sedang) tidak menghasilkan komik, Terra masih menggambar komik meskipun jalur utama berkaryanya adalah galeri pada saat ini. Karya Terra di ART|JOG berupa lukisan akrilik di atas kanvas yang menggambarkan dua karakter robot perempuan. Tidak terasa latar belakang Terra sebagai komikus kecuali (mungkin) dari anatomi karakternya saja.

Pada akhirnya, buat saya sedikit ngobrol dengan Bambang Toko mengenai display karya saya malam itu dan keikutsertaan beberapa seniman yang pada awal karirnya adalah komikus, berfungsi sebagai semacam pengukuhan bahwa bermain-main dalam berkarya itu penting. Saya tidak (atau paling tidak, belum) berencana untuk ikut bermigrasi ke jalur seni rupa. Dengan beberapa kali berpameran di galeri sejak 2008, saya tidak bermaksud menghasilkan karya yang tidak ‘ngomik’ dan mengikuti tren seni kontemporer yang (masih) hype pada saat ini. Yang saya lakukan adalah perjalanan-sambil-lewat seperti yang sempat saya singgung di awal tulisan. Sambil saya menghasilkan komik komersil ataupun komik terbitan sendiri, saya mencoba bermain-main di area lain tanpa meninggalkan identitas saya sebagai komikus. Sahabat saya, Grace Samboh, telah memberikan saya kesempatan luar biasa untuk belajar bermain-main sejak saya menyetujui ajakannya 3 tahun lalu untuk “main-main” di galeri.

Sejak saat itu, saya punya kesempatan untuk mengekplorasi konsep dan ide apapun– tetap sebagai komikus, tentu saja –, tanpa ekspektasi tertentu sehingga saya bebas berkreasi tanpa terkungkung tuntutan atau guidelines penerbit. Eksekusi karya saya hanya bertanggung jawab pada konsep saya sendiri dan bahkan masih sangat mungkin untuk menyimpang dan menjadi sesuatu yang baru sama sekali.

Eksplorasi konsep dan ide berperan penting bagi seorang komikus untuk mengetahui seberapa jauh dirinya bisa fleksibel, seberapa jauh dirinya bisa menantang diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan. Bisa jadi, hal tersebut akan mengubah jalurnya sama sekali atau membuat si komikus mengalami apa yang saya sebut sebagai “evolusi karya” (atau gaya). Jadi, pertanyaan ini patut dan penting ditanyakan kepada diri sendiri sekali-sekali, “Hai, mau mampir di mana dan bermain apa kali ini?”

Oleh: Ariela Kristantina

This entry was posted in ComicalMagz-082011. Bookmark the permalink.

Leave a Reply